Yusril Segera Tindak Lanjuti Kasus Bank Bali

Reference click here
30 Oct 2019

Yusril Ihza Mahendra selaku pengacara Rudy Ramli menyatakan, sedang menyiapkan bahan guna menindaklanjuti ke proses hukum. Menurut Yusril, saat ini sudah ada beberapa dokumen yang dapat dijadikan alat bukti dugaan terjadinya cacat hukum dalam proses pengambilalihan Bank Bali yang melibatkan Standard Chartered Bank (SCB). “Kita lihat ada banyak kejanggalan yang bisa kita ajukan gugatan atas proses pengambilalihan Bank Bali,” ungkap Yusril dalam kesempatan peringatan 20 Tahun Kasus Bank Bali beberapa waktu lalu.

    Sementara itu, mantan Direktur Utama Bank Bali Rudy Ramli juga menguatkan adanya indikasi skenario jahat pengambilalihan Bank Bali yang dalam kondisi sehat, sehingga terpaksa harus ikut program rekapitalisasi perbankan. Indikasi itu kian kuat, setelah pengelolaan Bank Bali diserahkan oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) kepada SCB. “Ini ditandai adanya gerakan Mosi Tidak Percaya (MTP) karyawan Bank Bali kepada SCB yang ditandatangani 20 tahun lalu, yaitu pada 25 Oktober 1999,” ujar Rudy dalam acara memperingati “20 Tahun MTP Bank Bali”, di Bandung, 25 Oktober 2019.

    Keterlibatan SCB sejak proses rekap Bank Bali, hingga dikategorikan Bank Take Over (BTO) dan dilanjutkan dengan ditunjuknya sebagai Tim Pengelola Bank Bali oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) pada awal 1999, mengindikasikan adanya ketidakwajaran. SCB yang awalnya diberikan hak melakukan due dilligence ternyata sudah melakukan tindakan layaknya proses akuisisi alias pengambilalihan Bank Bali.

    Indikasi inilah yang pada akhirnya mengundang kecurigaan karyawan Bank Bali atas ulah SCB. Apalagi ditemukan dokumen adanya “USULAN dari SCB” kepada BPPN agar Bank Bali dijadikan BTO. Maka tepat pada tanggal 25 Oktober 1999, beberapa direksi dan sejumlah karyawan Bank Bali membuat surat “MOSI TIDAK PERCAYA” (MTP) atas ulah SCB yang seharusnya menyehatkan Bank Bali.

    Dalam surat MTP itu, para karyawan menyatakan, sejak SCB masuk, bukan menyehatkan, malah banyak tindakan yang  merugikan Bank Bali. Antara lain: Pertama, berkonspirasi dengan oknum BPPN mengusir dan mengkriminalisasi top management Bank Bali. Kedua, menghambur-hamburkan dana Bank Bali untuk Pesta Ulang Tahun Ketua Tim Pengelola, Douglas Beckett, di Hotel Dharmawangsa, Jakarta. Ketiga, fasilitas super mewah untuk Tim SCB 60 orang. Keempat, gaji 60 orang SCB setara dengan 7.000 karyawan Bank Bali. Kelima, pemindahan nasabah tabungan Bank Bali ke SCB. Dan keenam, pemindahan kredit-kredit bagus dari Bank Bali ke SCB.

    Surat MTP itu ditandatangani direksi, Kepala Cabang dan karyawan Bank Bali yang tersebar di seluruh Indonesia dan ditujukan kepada Bank Indonesia dan BPPN, serta ditembuskan ke Pemerintah RI, DPR RI, Lembaga Keuangan Nasional, seperti Bapepam dan Bursa Efek Jakarta dan Surabaya. Juga lembaga internasional, seperti IMF, World Bank, ADB, dan lainnya.

    Dalam acara memperingati 20 Tahun MTP itu, Rudy Ramli juga menjelaskan bahwa penunjukkan Yusril Mahendra sebagai pengacara, ditempuh guna menuntut keadilan. Karena Rudy merasa dalam proses pengambilalihan PT Bank Bali Tbk yang telah dimerger menjadi PT Bank Permata Tbk, dirinya sangat dirugikan. Sementara itu, di mata Yusril, proses itu penuh indikasi kejanggalan dan kecurangan terencana.

   “Kami sudah memiliki beberapa dokumen Rencana Jahat SCB mengambil alih Bank Bali, di antaranya, dengan nama proyek Fork,” ujar Rudy. Dia mengaku berani menggugat kasus Bank Bali, karena adanya beberapa dokumen yang mengindikasikan perbuatan melawan hukum dari SCB. MDj