Disebut Terlibat Skandal 20 Tahun Lalu, Bank Bali Siapkan Proses Hukum untuk Bangkit Kembali

Reference click here
29 Oct 2019

TRIBUNJABAR, BANDUNG - Bank Bali menghadapi masa kelam sekitar 20 tahun lalu. Bank Bali disebut tersandung kasus cessie skandal hak tagih utang.

Saat itu, Bank Indonesia (BI) sempat mengeluarkan jaminan untuk pembayaran bank umum yang mau membantu bank-bank yang kesulitan likuiditas.

Bank Bali sempat diminta pejabat BI untuk menjadi bank rekap untuk membantu bank-bank yang kesulitan likuiditas.

Bank Bali mengucurkan pinjaman dana antar bank ke Bank Umum Nasional, Bank Tiara, BDNI, dan bank lainnya sekitar Rp 1,3 triliun.

Pada 1997, beberapa piutang itu sudah jatuh tempo. Namun Bank Bali kesulitan untuk menagih piutangnya. Sebab bank-bank yang memiliki utang ke Bank Bali dalam perawatan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Akibat tidak dibayarnya pinjaman antar bank itu, terjadi rentetan peristiwa yang mengakibatkan keuangan Bank Bali harus ikut direkap senilai Rp 1,4 triliun.

Selama dalam program rekap, Bank Bali di bawah penanganan BPPN. Setelah itu, BPPN menunjuk Standard Chartered Bank (SCB) untuk menangani dan menyehatkan Bank Bali.

BPPN kemudian menjadikan Bank Bali sebagai kategori BTO (bank take over). Hingga akhirnya dimerger dengan 4 bank lainnya menjadi Bank Permata. Kemudian Bank Permata dibeli oleh SCB.

"Tepat dengan peringatan 20 tahun MTP (Mosi Tidak Percaya) Bank Bali, kami ingin kembali memperjuangkan kembali Bank Bali," kata Mantan Direktur Utama (Dirut) Bank Bali, Rudy Ramli, di sela Peringatan 20 Tahun MTP Bank Bali di Bandung, Jumat (25/10/2019) malam.