Pem-BTO-an Bank Bali Versi Rudy Ramli

Reference click here
13 Sep 2020

Gatra.com | 14 Aug 2020 21:51  - (GATRA/Iwan Sutiawan)

Jakarta, Gatra.com - Mantan Direktur dan pemilik Bank Bali, Rudy Ramli, menyebut bahwa ada pihak tertentu yang membuat Bank Bali dijadikan sebagai Bank Take Over (BTO). Status ini disebut juga karena adanya kongkalikong atau permainan pihak tertentu dengan perwakilan pemerintah kala itu.

Rudy dalam webinar bertajuk "Kembalinya Djoker (Djoko Tjandra) Menguak Tabir Pengambilalihan Bank Bali?" pada Jumat (14/8), menyampaikan, awalnya Bank Bali dalam kondisi sehat, sehingga diminta oleh otoritas agar menaruh uangnya ke money market.

"Kejadian 1998 dan 1999 yang tidak semua orang tahu. Bahwa saya sudah dijorokin ke pinjaman-pinjaman money market," ungkapnya membuka penyampaian materi.

Pada Juli 1998, Bank Bali telah mempunyai kesepakatan dengan JP Morgan untuk mencari strategic investor. Pada bulan Oktober, semua perisapannya sudah rampung. Setelah itu, mengundang 25 perusahaan, di antaranya dari perbankan untuk menawarkan sebagai strategic investor.

"Dari 25 yang diundang, cuman 20 yang jawab dan bilang mau, saya interested. Yang mau dan interested itu diizinkan masuk ke data room, melihat data-data, mengaudit data-datanya, dan macam-macam," ungkapnya.

Pada November 98, semua perusahaan yang menyatakan tertarik sudah masuk ke data room. Akhir Januari 1999, Bank Bali mengumumkan perusahaan-perusahaan yang sangat berminat untuk menjadi strategic investor.

"Dari yang 20 itu, salah satunya Standard Chartered Bank. Ini Standard Chartered Bank memang tertarik awalnya, tapi waktu akhir Januari kita mengumumkan hanya 3 yang tertarik," ungkapnya.

Menurut Rudy, bisanya bank yang menyatakan tertarik itu untuk melihat atau mengintip data. "Jadi mau lihatlah isi bank Bali itu apa. Anyway bisa ngintip-ngintip bank Bali," ujarnya.

Dari 3 nama yang sudah terjaring, akhirnya pada 12 Maret 1999, sesuai masukan dari JP Morgan, Bank Bali memutuskan memilih GE Capital sebagai strategic investor. Kedua belah pihak pun mengikatnya dalam perjanjian.

"Sesudah tanda tandangan ini kita bilang kepada umum, kepada semuanya bahwa saya mau 'menikah' dengan GE-Capital. Mereka akan menjadi strategic capital," ujarnya.

Bank Bali kemudian memberikan masing-masing 1salinan kontrak tersebut kepada Bank Indonesia (BI), Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), dan Menteri Keuangan (Mekeu) saat itu.

"Tanggal 27 Maret itu saya mendadak kena stroke dan saya pergi ke Rumah Sakit Graha Medika Kebon Jeruk. Pada tanggal 25 saya masuk RS dulu karena merasa badannya tidak enak," katanya.

Pada tanggal 30 Maret, Rudy yang masih berada di rumah sakit, ditelepon seseorang yang dikenalnya, inisialnya MW, warga negara Malaysia. Menurutnya, dia ingin agar Bank Bali membuat perjanjian dengan salah satu bank dari luar Indonesia.

"Saya bilang, Anda kan sudah tahu, saya sudah kontrak tanggal 12 Maret dan itu diumumkan ke publik dengan GE Capital. Artinya, kalau saya sudah tanda tangan, sama saja dengan kita sudah enggage, sudah tunangan. Meskinya diberikan waktu 6 bulan, baru bisa cari-cari 'cowok' lain," katanya.

Rudy pun menolak tawaran orang yang dikenalnya itu. Secara etika, itu tidak boleh karena sudah terikat perjanjian. Rudy awalnya tidak menganggap salah satu perkataan orang yang dikenalnya itu sebagai ancaman.

"Saya anggap itu bukan ancaman. Tapi kata-katanya ada tambahan demikian. Perkatannya mungkin itu sedikit pemberitahuan yang sangat-sangat penting, tapi saya abaikan," ungkapnya.

Setelah keluar dari rumah sakit, pada 5 April 1999 Rudy berangkat ke Singapura untuk mengecek kesehatannya. Pihak rumah sakit di Singapura meragukan bahwa ia terkena stroke. "Tapi pada saat itu ya benar karena saya punya kanan lumpuh. Tapi ya pada saat di Singapur dibilang bukan," katanya.

Rudy baru kembali ke Jakarta pada 15 April. Pihak manajemen Bank Bali menyampaikan bahwa selama ia berada di Singapura, manajemen sudah menyerahkan kontrak antara Bank Bali dan GE Capital kepada Bank Indonesia (BI) dan BPPN.

Namun pihak BI dan BPPN tidak mau bertemu dengan pihak Bank Bali untuk membahas isi kontak tersebut. "Jadi aneh kan," ucanya. Rudy pun kemudian pada tanggal 15 April akhirya mendatangai BPPN dan diterima salah satu pejabat.

"Bicaranya, dia [pejabat BPPN] bilang, saya tidak suka anda dengan GE Capital," ungkapnya. Pernyataan tersebut tidak terlalu mengagetkan karena Rudy sudah mendapatkan informasi bahwa pihak BPPN menginginkan agar Bank Bali bersama salah satu bank luar negeri.

"Jadi sampai kita mencoba macam-macam cara di tanggal 17, 18, 19, 20 enggak berhasil juga," katanya.

Akhirnya, pada tangal 21-nya pihaknya melakukan rapat bersama Komisaris Utama Bank Bali, JB sumarlin. "Jadi ya sudah terpaksa deh, mau enggak mau kita mesti terima," ungkapnya.

Setelah rapat tersebut, akhirnya besoknya diatur pertemuan di BI dan disuruh untuk tanda tangan oleh pihak bank luar negeri? yang diinginkan pejabat BPPN tersebut. Tanda tangan dibubuhkan di atas kertas kosong karena pihak Bank Bali sama seklai belum pernah bertemu atau menjalani pembicaraan dengan pihak bank tersebut. "Ya tanda tangan di kertas kosong," ucapnya.

Setelah itu, baru 5 atau 6 tahun lalu Rudy mengetahui bahwa kertas kosong yang ditandatanganinya itu menjadi kesepakatan awal (head of agreement) dan ada banyak versi. "Ada versi a, b, c, d, e," katanya.

Rudy mengaku saat ini mempunyai salinan dari versi-versi tersebut. Namun dalam salinan itu, tiap lembarnya tidak dibubuhi parafnya. "Hanya pada akhir kontrak tersebut ada tanda tangan saya, memang itulah yang disodorin untuk tanda tangan," katanya.

Rudy pun belakangan mengetahui bahwa ada surat spesial dari pihak bank luar negeri itu kepada pejabat BPPN yang menolak Bank Bali mejalin perjanjian dengan GE Capital. Bahkan, isinya permintaan agar mem-BTO-kan Bank Bali.

"Mengusulkan Bank Bali di-BTO-kan saja. Karena dengan begitu [bank dari luar negeri] akan lebih mudah, hanya berurusan dengan BPPN, tidak perlu bertemu lagi dengan keluarganya Ramly," katanya.

Surat tersebut dinilai Rudy berkorelasi dengan ucan salah satu pejabat bank luar negeri tersebut. Pasalnya, pada 22 Juli pihaknya diundang menghadiri pesta oleh CEO dari bank itu yang baru datang dari Inggris dan mempunyai kedekatan dengan pimpinan BPPN karena sebelumnya dia merupakan atasannya ketika berada di Singapura.

Pada acara tersebut, lanjut Rudy, CEO itu menyampaikan selamat karena akan menjadi satu keluarga. "Kita akan sama-sama ya semuanya. Dan jam 06.30 dapat telepon dari kantor, bahwa BI telah kirim fax dan fax-nya menyatakan Bank Bali besok di BTO-kan tanggal 23 Juli," ujarnya.

Manajemen Bank Bali pun kemudian besoknya me?datangi BI dan diterima salah satu pejabat tingginya. "Dia bilang, 'Selamat ya bank Anda di-BTO-kan'. Dikasih selamat kita," ucapnya.

Rudy mengatakan bahwa ucapannya ini bukan tanpa bukti. "Ini semuanya ada buktinya di risalah rapat di DPR? tanggal 16 Desember. Saya ada semua dokumennya kalau butuh sy siap presentasikan," katanya.

Melaui bukti-bukti tersebut, Rudy mengaku baru paham mengapa Bank Bali harus direkap. Nilai totalnya Rp11,89 triliun. Dari angka itu ia menghitung kalaupun setengahnya, yakni Rp5 triliun itu uang yang pemerintah keluarkan, meskinya Bank Bali itu tidak perlu direkap.

"Karena Bank Bali itu dijorokin supaya direkap, ya saya hilang Bank Bali-nya. Inilah caranya konspirator-konspirator itu mengambil alih Bank Bali," katanya. Terkait keterangan tersebut Gatra.com masih berupaya mengonfirmasi pihak terkait.


Editor: Iwan Sutiawan