• Kartu Debit Bank Bali

    Bank Bali tercatat sebagai pelopor penggunaaan kartu debit di Indonesia. Pada awal 1990, nasabah Bank Bali sudah bisa melakukan transaksi non tunai di berbagai merchant. Hal ini membuktikan kinerja Bank Bali sebagai salah satu bank ternama di Indonesia. 
     

  • Menggugat Pengambilalihan Bank Bali

     

    Awal Februari 1997, AN (nama samaran) mengajukan penawaran untuk membeli saham mayoritas Bank Bali milik keluarga Ramli. Namun, Rudy Ramli menolak permintaan tersebut. 
    Apri 1997, JR (nama samara) menyatakan ingin membeli saham keluarga Ramli di Bank Bali senilai USD 1.8 Milyar. Namun Rudy Ramli kembali menolak. 
    Akhir 2000, Presiden Gus Dur, menyatakan kepada Rudy Ramli, bahwa penolakan tersebut membuat AN dan JR marah besar. 
     

  • Gus Dur

    Di akhir tahun 2000, Rudy Ramli, mantan Dirut. Bank Bali, menemui Presiden Gus Dur. Dalam pertemuan tersebut, Gus Dur menyatakan bahwa ada pihak yang marah, karena Rudy Ramli menolak penawaran pembelian Bank Bali senilai USD 1.8 Milyar. Tak lama setelah penolakan tersebut, Bank Bali terjerat dalam krisis keuangan sehingga berstatus sebagai Bank Take Over (BTO). Sehingga Rudy Ramli kehilangan kepemilikan di bank yang didirikan oleh ayahnya tersebut.

     

  • Bank Indonesia

     

    Di akhir 1997, di tengah masa krisis ekonomi, Rudy Ramli diminta oleh pemerintah memberikan pinjaman melalui pasar uang antarbank. Salah satu pejabat pemerintah, bahkan memberikan jaminan, “Kita, pemerintah akan memberikan jaminan”. Atas dasar ini, manajemen Bank Bali memberikan piutang kepada Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), Bank Umum Nasional (BUN) dan Bank Tiara. Namun, sepanjang 1998, piutang tersebut sulit ditagih, hingga akhirnya membuat rasio kecukupan modal Bank Bali menjadi -28,7% pada Maret 1999. 

  • Djoko S Tjandra

     

    Joko S. Tjandra, di awal 1999 menawarkan bantuan pencairan dana piutang Bank Bali kepada Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI), Bank Umum Nasional (BUN) dan Bank Tiara. Bantuan ini ibarat angin segar bagi manajemen Bank Bali yang kesulitan menagih piutang tersebut. Di pertengahan 1999, Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) mencairkan tagihan piutang tersebut senilai Rp. Rp. 904,6 Milyar. Namun, manajemen Bank Bali hanya menerima Rp. 359 Milyar, sedangkan sisany, Rp. 546 Milyar mengalir ke rekening PT. EGP. Akhirnya kasus ini mencuat, dan lembaga peradilan memvonis Djoko S. Tjandra hukuman penjara selama 2 tahun. 

  • Layanan Unggulan

     

    Salah satu layanan unggulan Bank Bali di tahun 1990-an adalah pembayaran tagihan listrik, air dan telepon secara online. Hal ini membuktikan kesiapan jaringan tekhnologi informasi untuk ukuran perbankan Indonesia.

  • Rudy Ramli

     

    Di tahun 1983, Rudy Ramli, putra Djaja Ramli mulai bergabung sebagai trainee staff di Bank Bali. Pada Juni 1992, ia diangkat menjadi Direktur Utama. Majalah Euromoney, pada 1993, memberinya penghargaan Euromoey’s Award for Excellent. 

  • J.B. Sumarlin

     

    J.B. Sumarlin adalah menteri keuangan periode 1988-1993. Pria asal Blitar Jawa Timur ini juga pernah duduk di kursi Dewan Komisaris Bank Bali, bersama I Nyoman Suwandha, Soetikno Soedardjo, Tonni Sugiri, W. Kidarsa.

  • Pulau Bali

     

    Di era 70-an, orang asing lebih mengenal Pulau Bali dibandingkan Indonesia. Melihat situasi ini, Djaja Ramli memutuskan mengganti nama BPDI menjadi Bank Bali. Tujuannya, agar Bank Bali bisa cepat dikenal di dunia internasional.

  • Djaja Ramli

     

    Di tahun 1964, Djaja Ramli ditunjuk menjadi pengelola Bank Persatuan Dagang Indonesia (BPDI). Atas desakan Kho Jan Bok, Djaja Ramli akhirnya beralih dari pedagang tekstil menjadi seorang bankir. Kho Jan Bok tidak salah pilih orang. Di tangan Djaja Ramli, BPDI berhasil melewati masa sulit pasca G 30S/PKI. Dan kemudian membawa BPDI berubah menjadi Bank Bali di tahun 1971. 

  • Bank Bali Go Public

     

    Di tahun 1989, Djaja Ramli membawa Bank Bali melewati proses Go Public. Dengan kode emiten BNLI, Bank Bali melantai di Bursa Efek Surabaya dan Bursa Efek Jakarta. Hingga 31 Desember 1998, 47,90% saham Bank Bali dimiliki oleh publik.

  • Maskot " Si Jempol "

     

    Di tahun 1980, Djaja Ramli merasakan persaingan di industri perbankan nasional semakin ketat. Salah satu cara Djaja Ramli mengenalkan Bank Bali ke masyarakat adalah penciptaan maskot “Si Jempol”, serta motto “Memberi yang Terbaik”. Strategi pemasaran ini berhasil membuat Bank Bali dikenal luas dan mendapatkan kepercayaan masyarakat.
     

  • There Are No Capital Commitments Related to The Groups Investment in Permata

     

    Rudy Ramli, mantan Dirut Utama Bank Bali, telah mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Rudy melaporkan indikasi kejanggalan pada proses penggabungan lima bank salah satunya adalah Bank Bali menjadi Bank Permata. Rudy menemukan fakta, Standard Chartered Bank sebagai pemilik Bank Permata saat ini, membeli Bank Permata tidak menggunakan dana sendiri. Hal ini merujuk pada laporan keuangan SCB tahun 2006 yang memuat sebuah catatan berbahasa Inggris : “THERE ARE NO CAPITAL COMMITMENTS RELATED TO THE GROUPS INVESTMENT IN PERMATA”. Rudy ingin SCB menjelaskan maksud catatan tersebut, agar terbuka informasi yang transparan mengenai pemodal dan pemilik sesungguhnya Bank Permata 

  • BPPN

     

    Di awal Maret 1999, kondisi rasio kecukupan modal (CAR) Bank Bali, minus 28,7%. Hal ini imbas dari kesulitan tagihan piutang Bank Bali kepada Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI), Bank Umum Nasional (BUN) dan Bank Tiara.
     
    Bank Indonesia (BI) memberi tenggat waktu hingga 21 April 1999 kepada manajemen Bank Bali, untuk mencari mitra strategis, yang bisa menambah modal, sehingga CAR Bank Bali berada di angka 4%.
     
    Pada 12 Maret 1999, manajemen Bank Bali, menjalin kemitraan strategis dengan GE Capital. Namun, keputusan tersebut, tidak mendapatkan respon yang baik dari pejabat (BI), Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan Departemen Keuangan.
     
    Anehnya, menjelang batas akhir penyertaan modal, BPPN memilih Standard Chartered Bank (SCB) sebagai mitra strategis Bank Bali.
     
    Dalam kondisi terdesak, manajemen Bank Bali akhirnya menandatangani Head of Agreement (HOA) dengan SCB.
     
    Atas kondisi ini, Rudy Ramli dan Herman Ramli melakukan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terhadap BPPN dan BI.
     
    Keputusan PTUN, tanggal 7 April 2000, menyatakan bahwa BI dan BPPN selaku tergugat, dengan sengaja telah memasukkan SCB sebagai partner menjelang batas waktu penyetoran tambahan modal hampir berakhir dan tanpa pernah mengikutsertakan pemegang saham atau pengurus PT. Bank Bali TBk dalam negosiasi, sehingga PT. Bank Bali Tbk terpaksa menerima SCB karena tidak mungkin dalam waktu yang sangat singkat mencari “strategic partner” yang lain.

  • Rudy Ramli menunjuk Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra sebagai konsultan hukum

    Rudy Ramli, mantan Direktur Bank Bali, menunjuk Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, sebagai konsultan hukum.

    Penunjukan ini, berkaitan dengan upaya Rudy untuk menuntut keadilan atas kejanggalan penyerahan manajemen Bank Bali, kepada Badan Penyehatan Keuangan Negara (BPPN) pada tahun 1999.

    Terlebih, ketika Bank Bali akhirnya dimerger bersama 4 bank lainnya, menjadi Bank Permata, ada potensi kerugian negara.

    Dana rekapitulasi Bank Permata, yang dikeluarkan pemerintah mencapai Rp. 11.9 Trilyun.

    Tetapi, saat Bank Permata dijual kepada Standard Chartered Bank, hanya seharga Rp. 2.7 Trilyun.

    Sehingga ada kerugian negara sebesar Rp.  9.2 Trilyun pada proses rekapitulasi Bank Permata.

  • Surat Perjanjian Menjadi Dasar Pengambilalihan Manajemen Bank Bali

     

    Pintu masuk Standard Chartered Bank (SCB) ke dalam jajaran manajemen Bank Bali adalah Head of Agreement (HOA) tertanggal 22 April 1999. Namun, HOA tersebut penuh dengan keganjilan. Pertama, pengurus Bank Bali hanya disodori lembaran terakhir yang berisi kolom tanda tangan. Dalam setiap lembaran HOA tersebut, tidak terdapat paraf dari pengurus Bank Bali, selain tanda tangan di halaman terakhir. Kemudian, sesuai arsip Bank Bali, ada 3 arsip HOA, tanpa diketahui, versi yang berlaku. Dan, tidak ada naskah HOA dalam Bahasa Indonesia. Padahal, sebagai negara yang berdaulat dan mempunyai bahasa sendiri, perjanjian itu juga harus dibuat dalam Bahasa Indonesia. Lebih lebih bila dikaitkan dengan adanya ketentuan dalam HOA yang menyatakan bahwa perjanjian tersebut dikuasai oleh hukum Indonesia.

    Pintu masuk Standard Chartered Bank (SCB) ke dalam jajaran manajemen Bank Bali adalah Head of Agreement (HOA) tertanggal 22 April 1999.
    Namun, HOA tersebut penuh dengan keganjilan. Pertama, pengurus Bank Bali hanya disodori lembaran terakhir yang berisi kolom tanda tangan. Dalam setiap lembaran HOA tersebut, tidak terdapat paraf dari pengurus Bank Bali, selain tanda tangan di halaman terakhir.
    Kemudian, sesuai arsip Bank Bali, ada 3 arsip HOA, tanpa diketahui, versi yang berlaku. Dan, tidak ada naskah HOA dalam Bahasa Indonesia. Padahal, sebagai negara yang berdaulat dan mempunyai bahasa sendiri, perjanjian itu juga harus dibuat dalam Bahasa Indonesia. Lebih lebih bila dikaitkan dengan adanya ketentuan dalam HOA yang menyatakan bahwa perjanjian tersebut dikuasai oleh hukum Indonesia.

     

  • BPPN

     

    Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No. : 1/14/Kep.DpG/1999 tanggal 23 Juli 1999 adalah dasar hukum penyerahan PT. Bank Bali Tbk. kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Namun, Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) membatalkan surat keputusan tersebut. PTUN menilai, BI dan BPPN, mengabaikan kepentingan Bank Bali.

    BI dan BPPN menurut PTUN, membuat posisi Bank Bali terdesak, dan tidak punya pilihan, selain menerima Standard Chartered Bank (SCB) sebagai mitra strategis. Yang ganjil, dalam Head of Agreement (HOA), antara Bank Bali dengan SCB, pengurus Bank Bank Bali hanya disodori lembaran terakhir, yang isinya kolom tanda tangan.

  • Keganjilan Proses Pengambilalihan Bank Bali

     

    6 Desember 1999, diselanggarakan sebuah rapat yang diselenggarakan oleh Panitia Kerja (Panja) Gabungan Komisi II dan Komisi X DPR-RI.
    Dalam rapat tersebut, Glenn M. Yusuf dan Farid Haryanto, mengakui bahwa pengurus Bank Bali hanya disodori lembaran terakhir Head of Agreement (HOA) dengan Standard Chartered Bank (SCB). Lembaran terakhir itu, hanya berisi kolom tanda tangan. Pengakuan Glenn M. Yusuf tersebut, membuktikan keganjilan dan keanehan dalam proses penyerahan Bank Bali kepada BPPN.

  • Perjanjian pengelolaan Bank Bali oleh SCB

    Perjanjian pengelolaan Bank Bali oleh SCB yang dibuat oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dinilai sangat merugikan Pemerintah dan Bank Bali.

    Terutama pasal 5.2 yang secara khusus mengatur sanksi, jika perjanjian tersebut diakhiri atau dibatalkan sebelum 3 tahun, Aturan tersebut diberi judul Early Termination Fee, mengatur dua hal untuk memberikan sanksi kepada pihak yang mengakhiri perjanjian sebelum genap tiga tahun.

  • Investment Agreement antara BPPN dengan SCB

     

    Pada tanggal 26 Juli 1999 terjadi perjanjian investasi atau Investment Agreement (IA) antara Badan Penyehatan Perbankan Nasionak (BPPN) dengan Standard Chartered Bank (SCB) tertuang dalam naskah perjanjian sebanyak 27 halaman. Dalam perjanjian tersebut terdapat 10 halaman penyertaan berupa jadwal dan ketentuan mengenai penerbitan obligasi terkait rekapitulasi Bank Bali.
     

    Pada tanggal 26 Juli 1999 terjadi perjanjian investasi atau Investment Agreement (IA) antara Badan Penyehatan Perbankan Nasionak (BPPN) dengan Standard Chartered Bank (SCB) tertuang dalam naskah perjanjian sebanyak 27 halaman.
    Dalam perjanjian tersebut terdapat 10 halaman penyertaan berupa jadwal dan ketentuan mengenai penerbitan obligasi terkait rekapitulasi Bank Bali.
    #BankBaliReborn
    #RudyRamli
    #StandardCharteredBank
    #KPK
    #OJK
    #BankPermata
    #BNLI
    #rudyramli.com

  • Mosi Tidak Percaya

    Setelah SCB ditunjuk sebagai Tim Pengelola Bank Bali oleh BPPN, banyak tindakan melanggar ketentuan hukum. Diantaranya mempekerjakan tenaga asing tanpa izin kerja. Hal ini mendorong karyawan membuat Mosi Tidak Percaya (MTP) yang ditandatangani 25 Oktober 1999. Dalam MTP itu, karyawan menuntut agar SCB memulangkan karyawan asing yang tidak memiliki izin kerja.

  • Acara 20 Tahun Mosi Tidak Percaya

    Setelah 20 Tahun tak bersua, karyawan Bank Bali Bandung gelar acara Lepas Kangen bersama Dirut, Rudy Ramli pada 25 Oktober 2019. Rudy hadir dalam acara yang dipenuhi sekitar 100 orang karyawan Bank Bali yang pernah berjuang menolak kehadiran SCB. Acara diadakan dalam memperingati 20 tahun terjadinya Mosi Tidak Percaya (MTP) Karyawan Bank Bali kepada SCB yang saat itu pada tahun 1999 ditunjuk BPPN sebagai Tim Pengelola Bank Bali

  • Deklarasi Pengurusan SKBB

     

    14 Agustus 1999 deklarasi Serikat Karyawan Bank Bali (SKBB), dengan ketua sementara Yabin Yap pertama kali sebelum pemilihan resmi. Sekjen Ary Satrio, wakil Sekjen Pratama. Ada sekitar 50 orang yang hadir dalam deklarasi tersebut, termasuk human resources pun tahu soal pendirian serikat tersebut.

    #BankBaliReborn #RudyRamli #StandardCharteredBank #KPK #OJK #BankPermata #BNLI #rudyramli.com

  • Sejarah Lahirnya SKBB

    Di luar kisah yang dipaparkan langsung oleh para mantan aktivis dan pendiri SKBB (Serikat Karyawan Bank Bali), organisasi tersebut juga memiliki pemaparan resmi yang dikemukakan dalam bentuk dokumen yang mengungkap sejarah wadah tersebut. Dalam dokumen yang berjudul “Sejarah Lahirnya SKBB” dipaparkan lika-liku yang terdokumentasi dari organisasi para karyawan Bank Bali tersebut. .
    .
    .
    .

    SKBB merupakan wadah yang murni lahir dari aspirasi karyawan Bank Bali. Inilah yang membuat SKBB menjadi serikat karyawan yang solid dan tangguh.

    #BankBaliReborn #RudyRamli #StandardCharteredBank #KPK #OJK #BankPermata #BNLI #rudyramli.com

  • Bali Buletin Board

     

    Bali Bulletin Board merupakan salah satu jalur komunikasi paling efektif di kalangan para aktivis karyawan Bank Bali. Saat Tim Standard Chartered (SCB) pimpinan Douglas Keith Beckett menjadi pengelola bank tersebut, media komunikasi itu berperan sangat signifikan dalam mendukung pergerakan karyawan

    #BankBaliReborn #RudyRamli #StandardCharteredBank #KPK #OJK #BankPermata #BNLI #rudyramli.com

  • Musyawarah Nasional (MUNAS)

     

    Menyadari bahwa ketidak pastian masih menyelimuti Bank Bali beserta segenap karyawan saat itu, menurut dokumen SKBB yang telah beranggotakan lebih dari 50% karyawan akhirnya menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) 1 SKBB di Jakarta, pada 29-31 Oktober 1999. Munas 1 tersebut merupakan pertemuan tingkat tinggi SKBB dalam mengkonsolidasi seluruh cabang SKBB yang telah terbentuk.

    #BankBaliReborn #RudyRamli #StandardCharteredBank #KPK #OJK #BankPermata #BNLI #rudyramli.com

  • 28 September 1999, Mabes Polri

     

    Pengalaman paling pahit yang pernah dialami oleh Firman Soetjahja saat berlangsung pengambilalihan Bank Bali adalah dipenjara. Bersama dengan tiga anggota Direksi Bank Bali lainnya, Wakil Dirut Bank Bali itu sempat merasakan hidup di hotel prodeo.
    Rudy dan ketiga direksi Bank Bali dituduh tidak melaporkan kesepakatan pengambilalihan hak tagih piutang atau cessie Bank Bali kepada BDNI, BUN, dan Bank Tiara yang ia buat dengan PT Era Giat Prima kepada Bank Indonesia.

    #BankBaliReborn #RudyRamli #StandardCharteredBank #KPK #OJK #BankPermata #BNLI #rudyramli.com

  • Pita Ungu sebagai Ekspresi Keprihatinan

    Saat diperiksa pada hari penahanan, para karyawan sudah menunjukkan simpati kepada keempat direksi Bank Bali. Ratusan karyawan memberikan dukungan dengan mendatagi halaman gedung Markas Komando Reserse (Makoserse) Mabes Polri di Jl. Trunojoyo, Jakarta Selatan.
    Ratusan karyawan Bank Bali memadati halaman gedung tersebut. Dengan wajah penuh keprihatinan mereka datang dengan tujuan untuk menengok mantan Dirut Bank Bali Rudy Ramli yang ditahan di salah satu ruangan pada gedung tersebut.

    #BankBaliReborn #RudyRamli #StandardCharteredBank #KPK #OJK #BankPermata #BNLI #rudyramli.com

  • Unjuk Rasa di halaman Gedung Mabes Polri

     

    Suatu ketika, ratusan karyawan berunjuk rasa di halaman Gedung Mabes Polri. Dalam kesempatan itu, selain bermaksud menjenguk Rudy dan ketiga mantan Direktur Bank Bali, mereka juga ingin mengobarkan semangat agar Rudy cs tidak menyerah.

    Pita mereka sematkan di busana masing-masing sebagai tanda keprihatinan. Juga bendera kertas kecil berwarna ungu yang mereka lambaikan. Tidak jemu-jemunya karyawan menuntut kepada Kapolri ketika itu Jendral Roesmanhadi agar menangguhkan penahanan Rudy cs.

    #BankBaliReborn #RudyRamli #StandardCharteredBank #KPK #OJK #BankPermata #BNLI #rudyramli.com
     

  • SCB yang di tunjuk sebagai calon Investor

     

    Menurut Wakil Direktur Utama Firman Soetjahja, aksi Tim Standard Chartered Bank (SCB) di Bank Bali sebaga sesuatu yang sangat tidak pantas. Hal itu sudah ia rasakan sejak tahap awal tim tersebut masuk ke Bank Bali, jauh sebelum Bank Bali berstatus Bank Take Over (BTO). Firman menduga sebelum masuk untuk melakukan Due Diligence di Bank Bali, Tim SCB telah mendapatkan briefing yang “tidak benar” mengenai Bank Bali sehingga hal itu membuat sikap dan perilaku mereka jauh berbeda dibandingkan dengan sikap mereka enam bulan sebelum saat mereka masuk sebagai salah satu peserta beauty contest yang diselenggarakan oleh JP Morgan.

    #BankBaliReborn #RudyRamli #StandardCharteredBank #KPK #OJK #BankPermata #BNLI #rudyramli.com